
Film ini menceritakan kisah tentang dua murid dari
sekolah yang sangat kaku dalam pembelajaran akademiknya. Satu bernama Todd
Anderson yang dibintangi oleh Ethan Hawke adalah murid yang sangat pemalu dan
memiliki seorang kakak yang sudah populer. Satu lagi adalah roommate-nya yang bernama Neil Perry yang dibintangi Robert Sean Leonard, seorang murid yang cerah dan populer, namun berada di bawah pengawasan ketat dari ayahnya yang terlalu konservatif. Setelah beberapa waktu, datang seorang guru bahasa
Inggris baru bernama Profesor Keating yang
nantinya akan mengubah hidup mereka dan murid-murid lainnya di sekolah
tersebut. Profesor Keating tak hanya sekadar mengajarkan mata pelajaran bahasa Inggris, tetapi dia juga memengaruhi para pelajar di sana untuk melihat dunia dan segala hal dengan lebih luas, meyakinkan para pelajar untuk percaya diri akan mimpinya yang sangat mungkin untuk tercapai, hingga menjelaskan makna sebenarnya bahwa manusia butuh akan seni yang mana pekerjaan di bidang itu sangat diremehkan oleh para orang tua dan guru-guru di sekolah itu.
Film ini ingin menyuarakan
bahwa anak-anak harusnya dibiarkan mempunyai mimpi-mimpi mereka sendiri. Selama
itu positif, kenapa tidak? Film ini menunjukkan passion-passion dari para murid yang beberapa di antara mereka malah dilarang orang tuanya untuk mengejarnya. Karakter guru yang diperankan Robin Williams mengajar dengan caranya yang
berbeda dari guru lain yang kaku. Dia mengajar sekaligus memberikan pengaruh kepada para murid untuk berani melakukan hal yang disukai. Professor Keating sangat mendukung mereka untuk
menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang mereka sukai, walau itu
berbanding terbalik dengan apa yang diinginkan oleh orang tua mereka. Orang tua memang harus mengawasi dan memastikan anak-anaknya tetap di jalan yang benar,
tapi bukan berarti bisa mengekang mereka hingga menentukan semua pilihan dan
jalan hidup sang anak itu sendiri. Akibat dari hal itu bisa dilihat dalam film
ini. Aspek-aspek seperti cerita, penyutradaraan, hingga sinematografinya juga yang
menurutku sangat berhasil ini membuat film Dead Poets Society menjadi salah
satu film favoritku dan alasan mengapa aku memilih ilmu ini untuk dianalisis.
Dalam ilmu televisi dan film, film ini bisa berkontribusi dalam berbagai aspek, terutama dalam penulisan cerita. Kemudian juga terdapat berbagai kutipan bagus yang bisa mendukung proses berkarya seni. Salah satu kutipan tersebut adalah, “Pekerjaan seperti dokter, pengacara, pengusaha, insinyur, adalah pekerjaan yang mulia dan dibutuhkan untuk menyeimbangkan kehidupan manusia. Tapi puisi, keindahan, romansa, cinta, ini semua adalah alasan kenapa kita terus hidup”. Kutipan tersebut menurutku sangat powerful karena menyadarkan akan pentingnya seni, hal yang sering diremehkan dan dianggap tidak penting oleh banyak orang, terutama para orang tua. Orang tua (yang ada di film ini) menganggap bahwa bidang seni yang disukai dan dikejar anaknya adalah hal remeh-temeh dan menginginkan anaknya untuk mengejar pekerjaan lain yang lebih menjamin dan jelas. Padahal seperti yang terbilang di kutipan tersebut bahwa seni adalah alasan mengapa kita hidup.
Film ini, menurutku, jika lebih dipopulerkan di berbagai kalangan dan umur pada waktu-waktu sekarang, akan sangat bermanfaat, terutama jika ditonton oleh para orang tua. Pesan-pesan penting nan krusial dalam film ini butuh dipahami oleh semua kalangan. Dead Poets Society akan sangat berkontribusi pada masyarakat jika maknanya betul-betul dipahami dan diamalkan demi anak-anak yang tidak lagi terkekang dan memaksakan pilihan hidupnya hanya karena orang tua yang tidak mengerti dan percaya pada dunia dari anak-anaknya. Karakter Profesor Keating juga bisa sangat menginspirasi kita untuk menjadi orang yang lebih terbuka dan bergairah.
Komentar
Posting Komentar